Laman

Senin, 18 Juni 2012

SIAP SELEM DAN MENG KUUK

Pada suatu pagi, "Siap Selem" (Ayam Hitam) bersama 4 ekor anaknya pergi meninggalkan rumah untuk mengais - ngais makanan. Hari sudah semakin siang dan mereka telah berada cukup jauh dari rumah. Bahkan, ketika matahari mulai condong ke Barat, mereka sudah berada di seberang sungai. Setelah sore, barulah mereka merasa kenyang. Lantas Siap Selem mengisyaratkan kepada nak- anaknya agar segera pulang.


Dalam perjalanan pulang, hujan pun turun rintik -rintik. Selanjutnya semakin lebat. Dan akhirnya lebat sekali. Siap selem menyadari, tidak mungkin menerobos hujan yang lebat itu bersama nank - anaknya yang masih kecil. Lantas ia mengajak anak - anaknya berteduh di bawah pohon besar. Agar anak - anaknya tidak kedinginan, siap selem melindungi anak - anaknya dengan kedua sayapnya. Setelah sekian lama, hujan belum juga reda. Siap SElem mulai bingung memikirkan bagaimana cara untuk pulang.

Pada saat kebingungan itu, lewatlah disana seekor "Meng Kuuk" (sebangsa kucing pemakan ayam). Siap Selem terkesiap melihat Meng Kuuk itu, sebab bangsa Meng Kuuk adalah musuh bangsa ayam. Namun ketika Meng Kuuk menyapanya dengan ramah, ketakutan Siap Selem pun reda.

"Ih, Siap Selem, kasihan kamu kehujanan di sini. Ayo mampir ke rumahku", kata Meng Kuuk dengan nada manis dan ramah.
"Terima kasih, lain kali saja, kami akan segera pulang", jawab Siap Selem.
"Kamu dan anak - anakmu tidak mungkin bisa pulang. Selain hari mulai gelap, air sungai pun mulai meluap. Kalau kamu menerobosnya, anak - anakmu pasti akan hanyut. Ayolah, bermalam saja di rumahku. Besok pagi kamu boleh pulang", pinta Meng Kuuk meyakinkan.
Siap Selem berpikir sejenak. Menurut pikirannya, benar juga kata - kata Meng Kuuk, bahwa air sungai mulai meluap. Akhirnya, Siap Selem memutuskan bersedia menginap di rumah Meng Kuuk. Selanjutnya mereka melangkah mengikuti Meng Kuuk menuju rumahnya yang terletak di pinggir sungai, tidak jauh dari situ.

Malam pun tiba. Siap Selem bersama anak -anaknya tidur di sebuah tempat, bersebelahan dengan tempat tidur Meng Kuuk. Dalam sekejap anak -anak Siap Selem tertidur karena lelah. Namun Siap Selem sendiri tidak bisa tidur. Dia tetap waspada. Dia khawatir kalau tiba- tiba Meng Kuuk berniat jahat, menyergapnya bersama anak-anaknya.

"Sabar nak, sebentar lagi. Kalau mereka sudah tidur, kita sergap bersama- sama. Aku menyergap induknya, dan kamu menyergap anak -anaknya", bisik Meng Kuuk
"Setuju, setuju!!", jawab anak - anaknya serempak.
Mendengar rencana jahat Meng Kuuk itu, Siap Selem seketika gelisah bercampur takut. Sejak saat itu, dia berpikir keras bagaimana caranya melepaskan diri dari bahaya maut. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya dia mendapat akal. Lantas dibangunkannya semua anak - anaknya secara perlahan lalu dibisikinya, bahwa akan terjadi malapetaka. Anak - anak Siap Selem terbangun kepupungan dan merasa ketakutan. Tapi Siap Selem membesar - besarkan semangat mereka.
"Kamu satu - persatu harus segera pergi dari sini. Meng Kuuk berniat menghabisi kita. Naiklah kamu ke atas tembok itu. Lantas terbanglah melewati sungai. Kerahkan seluruh tenagamu, agar kamu tidak jatuh ke sungai. Paham?"
"Paham bu", jawab anak - anaknya perlahan.
Selesai menerima perintah itu, mulailah anak - anak Siap Selem itu menaiki tembok. Keberanian mereka tumbuh, walau berkali - kali terpeleset karena licin dan gelap. Namun kemudian, mereka berhasil. Seekor dari mereka terbang menerobos kegelapan. Per.... per......buk!. Begitu bunyinya.

Meng Kuuk bersama anak - anaknya kaget dan tertegun sejenak mendengar suara itu. Lantas, dari tempat tidurnya Meng Kuuk bertanya dengan suara keras kepada Siap Selem.
"Siap Selem, bunyi apa itu?"
"Mungkin bunyi daun pisang yang jatuh ke tanah", jawab Siap Selem tenang.
Meng Kuuk percaya dengan penjelasan Siap Selem. Lantas dia diam kembali. Namun, sesaat kemudian terdengar lagi suara yang hampir sama dengan suara tadi. Per... per... buk!.
"Siap Selem, bunyi apa lagi itu?",tanya Meng Kuuk heran.
"Mungkin ada dahan kayu yang patah, lalu jatuh ke tanah", jawab Siap Selem meyakinkan.
Meng Kuuk percaya dengan penjelasan Siap Selem. Sama sekali dia tidak curiga. Lantas ia pun diam kembali. Sesaat kemudian, Meng Kuuk dikejutkan kembali oleh suara seperti tadi.
"Siap Selem, bunyi apa itu?"
"Mungkin bunyi kodok melompat ke sungai", jawab Siap Selem mengada - ada.
Untuk kesekian kalinya Meng Kuuk percaya. dia pun diam kembali. Kini keempat anak -anak Siap Selem telah pergi. Sebelum dia sendiri akan pergi , terlebih dulu dia mencari - cari beberapa batu. Satu buah batu sebesar dirinya - sendiri, dan empat buah batu sebesar anak - anaknya. semua batu itu diletakkan di tempat dia tidur tadi. Diaturnya sedemikian rupa dan ditutupinya dengan dedaunan. Siap Selem berharap nantinya batu - batu itulah yang akan diterkam oleh Meng Kuuk. Setelah semuanya beres, lalu dia sendiri terbang melintasi sungai yang aliran airnya sangat deras. Per...per...buk!. Di seberang sungai sana, Siap Selem berkumpul kembali dengan anak- anaknya dalam keadaan selamat.

Meng Kuuk kembali kaget. Bahkan lebih kaget dari yang tadi, sebab suara yang didengarnya sekarang lebih keras dari yang tadi.
"Siap Selem, bunyi apa itu keras sekali?"
Terdengar tidak ada yang menyahut. Meng Kuuk bertanya lagi dan bertanya bertubi - tubi. Tetapi tetap saja tidak ada yang menyahut. Akhirnya Meng Kuuk yakin, Siap Selem bersama ank - naknya telah tertidur pulas. Hatinya sangat senang. Dia merasakan bahwa sudah waktunya pesta besar bersama. Meng Kuuk pun membisiki anak - anaknya, bahwa dia sendiri akan menyergap induknya terlebih dulu. Kemudian barulah diserang beramai - ramai. Anak - anak Meng Kuuk sangat senag. Selanjutnya, mereka memperhatikan induk mereka mengendap - endap yang hendak menyergap mangsanya.

Meng Kuuk melompat dengan tangkas. Batu besar yang diduganya Siap Selem, disergapnya dengan garang. Apa yang terjadi? Ternyata Meng Kuuk meraung - raung kesakitan. Beberapa giginya rontok. Dan beberapa buah lagi patah. Menyaksikan peistiwa tersebut, anak -anak Meng Kuuk ketakutan sekaligus kasihan. Namun mereka tak berdaya menolong induk mereka. Meng Kuuk tetap saja meraung - raung kesakitan sampai pagi.

Keesokan harinya, dari seberang sungai sana Siap Selem bersama anak - anaknya bernyanyi.
"Ngik, ngak, ngik, ngak, gigi pungak nyaplok batu"
(Ngik, ngak, ngik, ngak, gigi hancur karena makan batu)
Demikianlah mereka bernyanyi berulang - ulang. Semakin lama terdengar semakin jauh. Dan akhirnya lenyap. Siap Selem telah jauh dari situ. Mereka mencari makan di tempat lain. Meng Kuuk sendiri, merasa sangat tersindir oleh lagu itu. Dia menjadi sangat malu.

Nah, begitulah cerita Siap Selem dan Meng Kuuk. Boleh jadi cerita ini merupakan sindiran untuk mereka yang berpura - pura baik hendak menolong, namun dalam hatinya jahat. Pahala buruknya mereka dapatkan.

3 komentar: